Di sisi lain, pemilu sebagai ruang dan celah “karpet merah” untuk memuluskan kepentingan segelintir orang dan mempertahankan status quo para elit komprador yang hanya “memakan uang rakyat”.
Seolah-olah kekayaan mereka bertumpuk di atas penderitaan dan jeritan rakyat kecil, mereka bermesraan di balik mata rakyat, tetapi di depan rakyat seolah berdebat atas nama oposisi dengan alasan kesehatan demokrasi dan pemilu.
Pemilu hanya bagian terkecil dari demokrasi. Namun setelah momentum pesta rakyat itu, para petani, rakyat kecil, dan buruh harus kembali mencangkul, nelayan melaut, dan buruh kembali ke pabrik setelah dijadikan sebagai pengepul suara untuk memuluskan kepentingan para calon pemimpin.
Sementara itu, elit politik mulai sibuk melakukan pembagian “kue kekuasaan” dan posisi hingga oposisi yang akan bergulat dalam sistem pemerintahan.
Rakyat sendiri pulang pada kesengsaraan dan kemelaratan dengan menyaksikan gaya elit politik penuh sandiwara yang tersenyum di beberapa baliho yang tersebar di ruas-ruas jalan, tetapi pikiran dan gagasan mereka untuk membangun tak jelas di mana arahnya, hanya berhenti pada meja-meja di ruang dingin yang penuh dengan AC.
Mereka seolah hanya menjadikan jalan kekuasaan untuk menjelajahi dan mengumpulkan kekayaan.
Dinamika Elit dan Kontroversial Parpol di Tengah Persoalan Rakyat Sultra








