Ini persoalan tentang hari baik masyarakat di hari esok, padahal sejatinya pemilu dan pilkada masih jauh tetapi saat ini sudah banyak yang kembali memanaskan mesin politiknya bukan tentang perjuangan rakyat tetapi tentang kepentingan elit, golongan tertentu.
Apa lagi beberapa hari ini kita di sajikan dengan berbagai atraksi partai politik, penuh lelucon dan sedikit lucu di tengah tergerusnya kepercayaan rakyat terhadap elit politik di Sulawesi Tenggara. Ini bukan Potret dan fenomena baru, tetapi hampir setiap saat.
Harusnya mereka bisa belajar dari pengalaman masa lalu, kenapa rakyat marah, kenapa rakyat tidak percaya lagi kepada elit yang menduduki jabatan politik strategis atau menduduki posisi di parlemen dan pemerintahan.
Bagaimana tidak, bukannya sibuk dengan persoalan rakyat, justru mereka “ribut” dengan internal, mencari posisi dan sangat saraf kepentingan.
Bagi mereka itu adalah dinamika dan dianggap sebagai sesuatu hal yang lumrah yang dengan mudah menjustifikasi kadernya yang tak patuh dan tidak saat aturan partai, tetapi bagi publik itu sangat lucu, menggemaskan atau menjadi bahan tertawaan di warung kopi.
Di samping itu juga, dalam kesempatan yang sama mereka terus memanaskan mesin politik, menetapkan target, dengan sararan merebut simpati rakyat untuk mendapatkan dukungan pada pemilu dan pilkada selanjutnya, tetapi faktanya dalam internal sendiri kocar kacir, tak solid lantas bagaimana ingin memberikan pendidikan dan pencerahan politik kepada masyarakat, jika hal-hal yang di pertontonkan di publik sangat membingungkan, saraf kepentingan sesaat dan menggambarkan sesuatu hal yang tak wajar.








