Dinamika Elit dan Kontroversial Parpol di Tengah Persoalan Rakyat Sultra

Mendekati proses pergantian kepemimpinan dan kekuasaan ini merasa perlu ada evaluasi yang sangat signifikan atau menjadikan itu sebagai refleksi untuk kembali menginternalisasi partai sendiri bahwa pola kepemimpinannya sudah keluar dari esensi yang sesungguhnya.

Mereka terus berlomba lomba berebut citra publik untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas dengan berbagai instrumen, mulai dari baliho, framing media, dan lainnya yang dibumbui dengan visi, misi, ‎dan program politik yang dibangun untuk mengepul suara asyarakat padahal fakta dan kenyataannya tak sesuai di lapangan, ketika ada masalah yang membutuhkan suara mereka.

‎Seakan masyarakat hanya dijadikan objek politik dan sarana untuk memilih, tetapi setelah terpilih lupa dan tak  pernah menjadikan masyarakat lagi sebagai orientasi utama.

‎Namun waktu seakan tak peduli dengan pilkada, politik pragmatis terus berkembang dengan kepentingan sesaat dan jangka pendek. Jalan rusak, pertumbuhan ekonomi merosot, kebijakan yang tidak pro-rakyat, gubuk, dapur rakyat yang tak lagi mengepul asapnya, dan sederet kasus pejabat ‎menghiasi dunia maya membuat masyarakat sulit percaya lagi kepada pemimpinnya. Dalam hal ini terjadi krisis legitimasi.

‎Namun hidup bukan hanya tentang pemilu dan politik saja, tetapi pemilu menjadi penting sebagai kedaulatan rakyat satu satunya dan instrumen untuk memilih pemimpin yang ideal, yang terpenting memberikan jaminan masa depan untuk kesejahteraan dan pembangunan daerah yang lebih b‎aik.

Baca Juga  Jaga Integritas Bantuan Sosial: Hindari Politisasi Program PKH dan Bedah Rumah