Dari cerita yang berkembang di masyarakat, penutupan pasar itu bahkan disebut disertai pernyataan dari pihak pengelola lahan yang menyebut pasar bisa saja ditutup dalam waktu lama.
“Katanya sampai keluar bahasa, ‘kita akan baku lihat-lihatmi kalau pasar ini ditutup berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan’,” kata warga lainnya.
Sebelum kejadian tersebut, keluhan pedagang sebenarnya sudah lama muncul. Para pedagang disebut sering mengeluhkan tarif sewa lapak dan penataan lokasi jualan yang dinilai tidak adil. Namun sebagian besar memilih diam karena takut tidak lagi diizinkan berjualan.
“Pedagang takut bicara karena khawatir nanti tidak dikasih jualan lagi di situ,” ungkap seorang warga.
Menurut cerita warga, hal itu bahkan pernah dialami salah seorang pedagang yang menyampaikan keberatan karena lapaknya digeser.
Setelah menyampaikan keluhan, pedagang tersebut disebut tidak lagi diizinkan berjualan di lokasi pasar.

Berawal dari penutupan sepihak itulah, sejumlah warga kemudian mendatangi pemerintah desa untuk meminta solusi atas persoalan yang terjadi.








