Sebenarnya sejak dulu banyak yang keberatan, tapi takut berbicara karna bisa berujung pada tidak diizinkan lagi untuk berjualan.
Situasi mulai memanas menjelang Idul Fitri 2026 lalu. Saat itu, pasar pribadi yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat tiba-tiba ditutup secara sepihak oleh pengelola.

Penutupan tersebut sontak membuat pedagang panik. Sejumlah pedagang akhirnya terpaksa berjualan di pinggir jalan karena tidak memiliki tempat lain untuk berdagang, padahal saat itu kondisi pasar sedang ramai-ramainya menjelang lebaran.
Kondisi tersebut memicu kemarahan masyarakat. Apalagi berkembang berbagai cerita di tengah warga terkait sikap pengelola pasar yang dinilai terlalu semena-mena terhadap pedagang.
Dari situlah masyarakat mulai mendorong agar desa memiliki pasar resmi yang pengelolaannya dilakukan secara terbuka dan memiliki legalitas yang jelas.
Sejumlah warga kemudian mendatangi Pemerintah Desa Kalibu untuk meminta solusi atas polemik yang terjadi.
Menindaklanjuti keresahan masyarakat tersebut, Pemerintah Desa Kalibu akhirnya menggelar musyawarah desa pada 24 Maret 2026.








